Blog Ahlal Kamal

Koridor Sekolah dan Bunga dalam Pot

    Sore itu langit mendung sepertinya hujan akan turun. Musim hujan telah datang sejak beberapa hari yang lalu, tak ayal kini gak siang gak malam, selalu saja hujan, “Alhamdulillah.”

    Setelah pembelajaran hari itu berakhir. aku segera beranjak dari tempat dudukkudan mulai bangkit bersama tas ransel yang menggantung di pundakku. Dengan cepat aku berjalan. Namun sesaat langkah kakiku hampir tiba di depan pintu kelas. Seorang teman memanggilku.

“Eh, tunggu dulu.” Ucapnya.
“Ada apa?” Jawabku. Seraya membalikkan tubuh menatapnya penuh tanya.
“Coba lihat itu!” Ucapnya. Seraya mengarahkan telunjuk ke arah pelataran sekolah.
Kini kami tepat berada di depan pintu kelas.
“Gak ada apa-apa tuh.” Jawabku lagi menuruti perintahnya.
“Coba lihat koridor ( pelataran ) ini, sering kali kita mengabaikannya.” Ucapnya lagi.
“Cobalah sesekali kita berhenti sejenak dari ketergesaan, perhatikan pelataran ini. Begitu indah bukan?” Tambahnya.

Akupun menarik nafas dalam-dalam, ku coba mengarahkan pandangan pada pelataran itu.
“Wah, benar katanya, begitu indah, sungguh.” Gumamku dalam hati.
“Suatu hari kita akan meninggalkannya” Ucapnya lagi. Seraya menepuk pundakku.
Hatiku mulai berlinang.
“Betapa sering kita mengabaikannya, padahal setiap hari pelataran ini kita injak” Tambahnya.
    Akupun terdiam merenung penuh perasaan, tiada terasa sudah tiga tahun aku berada disini. Setiap kali ia ku lalui begitu saja tanpa pernah memandangnya. Dengan ketergesaan aku berjalan melewatinya lalu masuk ke dalam ruang kelas. Tak perah satu detikpun aku berhenti sekadar memperhatikannya. Aku selalu bergegas melangkah penuh kesombongan.

    Kini aku melihatnya penuh harapan, aku tersadar sebentar lagi semua kan jadi kenangan. Kenangan yang takkan pernah kembali lagi. Sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah ini. Pelataran yang selalu ku hampiri setiap hari akan segera ku tinggalkan, entah apakah masih bisa aku menginjaknya lagi nanti.
**
    Kini kami berjalan satu arah menyusuri ruang-ruang koridor yang tak asing lagi. Koridor yang selalu menemani kami di kala ingin memasuki ruang kelas dan dikala hendak meninggalkannya.

“Lihatlah itu.” Ucap Dodi, teman yang telah menyadarkanku. Seraya ia membentangkan tangannya ke arah tanaman di sebuah pot yang berada tepat di samping koridor. Pot bunga yang tersusun di setiap empat langkah kaki itu.

“Memang ada apa dengan dia?” Jawabku penuh tannya.
“Apakah kamu tak melihat ia.?” Ucapnya lagi.
“Aku, melihatnya, tapi tak ada yang menarik.” Jawabku.
“Kawan, selama ini kita juga tidak begitu memperhatikannya. Sering kali di saat sekolah ini libur. Ia tak ada yang memberi makan tak ada yang memberinya air.?” Jelas Dodi.
    Akupun menatap tanaman itu dengan penuh iba, benar apa kata Dodi, tanaman ini sering kali terabaikan. Padahal  ia selalu setia memberi kesegaran udara untuk sekitarnya. Betapa malangnya ia terkadang hampir satu bulan sekolah libur, tiada satupun yang peduli dengannya.
“Coba liat itu.” Ucap Dodi seraya menyentuh daun yang mulai kering dan hampir terlepas dari tangkainya.
“Lihat tanaman ini, Mati segan hiduppun tak mau. Andai saja kita mendengar teriakakkannya”


Kenangan PPL




Makalah balaghah (ilmu badi') Al-Tauriyah & Al-Irshad

MAKALAH
ILMU BADI’
“AT-TAURIYAH & AL-IRSHAD”

Dosen Pembimbing :
H.HASAN MA, HUM


Disusun Oleh :

1.    Ahlal Kamal
2.    Ahmad Jurni
3.    Noor Fikrie
4.    Rahmanor
5.    Riduan
6.    M. Nor Hamadi

SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QURAN
STIQ AMUNTAI 2013/2014


BAB II
PEMBAHASAN
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tauriyah

Secara leksikal tauriyah bermakna tertutup atau tersembunyi. Kata ini secara etimologi merupakan bentuk masdar dari akar kata."وري"  Dalam bahasa Arab biasa terucap"وريت الخبر تورية"  (saya menutupi berita itu dan menampakkan lainnya).

Sedangkan secara terminologis tauriyah adalah:
أن يذكر المتكلم لفظا مفردا له معنيان  أحدهما قريب ظاهر غير مراد، والآخر بعيد خفي هو المراد بقرينة، ولكنه ورى عنه بالمعنى القريب، فيتوهم السامع لأول وهلة أنه مراد وليس كذلك.
 “Seseorang yang berbicara menyebutkan lafaz yang tunggal, yang mempunyai dua macam arti. Yang pertama arti yang dekat dan jelas tetapi tidak dimaksudkan, dan yang lain makna yang jauh dan samar, tetapi yang dimaksudkan dengan ada tanda-tanda, namun orang yang berbicara tadi menutupinya dengan makna yang dekat. Dengan demikian pendengar menjadi salah sangka sejak semulanya bahwa makna yang dekat itulah yang dikehendaki, padahal tidak.”

Pengertian tauriyah berdasarkan definisi di atas adalah penyebutan suatu kata yang bersifat polisemi, yaitu jenis kata yang mempunyai makna kembar. Makna pertama adalah makna yang dekat dan jelas, namun makna itu tidak dimaksudkan; sedangkan makna kedua adalah makna yang jauh dan samar, namun makna itulah yang dimaksudkan.

Pemindahan pengambilan makna dari makna awal kepada makna kedua, dari yang dekat dan jelas kepada makna jauh dan samar karena adanya qarînah (indikator) bahwa kata tersebut mesti dimaknai seperti itu. Qarînah yang menuntut kata tersebut dimaknai seperti itu adalah karena konteksnya.

B. Pembagian Tauriyah

Tauriyah terbagi menjadi empat macam, yaitu :

1.    Tauriyah Mujarradah

Tauriyah mujarradah ialah tauriyah yang tidak dibarengi dengan sesuatu yang sesuai dengan dua macam arti, seperti jawaban nabi Ibrahim as. Ketika ditanya oleh Tuhan tentang isterinya.

Ia mengatakan  هذه أختيIni saudaraku (seagama). Nabi Ibrahim memaksudkan kata ‘ أختي ’ adalah saudara seagama.

Dalam Alquran Allah swt berfirman:
وهو الذي يتوفاكم بالليل ويعلم ما جرحتم بالنهار
“Dan Dialah yang mewafatkan (menidurkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari.” (al-An’am : 60 ).

Pada kedua contoh kalimat di atas terdapat ungkapan tauriyah yaitu kata “أختي‘‘ dan جرحتم ’. Pada kedua contoh di atas tidak terdapat kata-kata yang sesuai dan munasabah untuk keduanya, sehingga dinamakan tauriyah mujarradah.

2. Tauriyah Murasysyahah

Tauriyah murasyahah ialah suatu tauriyah yang setelah itu dibarengi dengan ungkapan yang sesuai dengan makna yang dekat. Tauriyah ini dinamakan murasyahah karena dengan menyertakan ungkapan yang sesuai dengan makna dekat menjadi lebih kuat.

Sebab makna yang dekat tidak dikehendaki, jadi seolah-olah makna yang dekat itu lemah, apabila sesuatu yang sesuai dengannya disebutkan, maka ia menjadi kuat.

Contoh :
والسمآء بنيناها بأيد .
 “Dan langit itu Kami bangun dengan tangan (kekuasaan) Kami.” (al-Dzâriyat: 47)

Pada ayat di atas terdapat ungkapan tauriyah, yaitu pada kata ‘بأيد’. Kata tersebut mengandung kemungkinan diartikan dengan tangan, yaitu diberi makna anggota tubuh, dan itulah makna yang dekat. Sedangkan makna jauhnya adalah kekuasaan.

Dalam pada itu disebutkan juga ungkapan yang sesuai dengan makna yang dekat itu dari segi untuk menguatkan, yaitu kata بنيناه ا‘ ’. Namun demikian, pada ayat di atas ungkapan tauriyah mengandung kemungkinan makna yang jauh yang dikehendaki.


3. Tauriyah Mubayyanah

Tauriyah Mubayyanah adalah salah satu jenis tauriyah yang disebutkan padanya ungkapan yang sesuai untuk makna yang jauh. Dinamakan mubayyanah karena ungkapan tersebut dimunculkan untuk menjelaskan makna yang ditutupinya. Sebelum itu makna yang dimaksudkan masih samar, sehingga setelah disebutkan kelaziman makna yang dikehendaki menjadi jelas.


Contoh :
يا من رآني بالهموم مطوقا # وظللت من فقدي غصون في شجون

4. Tauriyah Muhayyaah

Tauriyah Muhayyaah ialah tauriyah yang tidak terwujud kecuali dengan lafaz sebelum atau sesudahnya. Jadi Muhayyaah terbagi menjadi dua bagian :

1) Sesuatu yang dipersiapkan dengan lafaz yang terletak sebelumnya.
Contoh :
وأظهرت فينا من سماتك سنة # فأظهرت ذاك الفرض من ذالك النذب

“Anda tampakkan di tengah kita, Tabiat aslimu Anda tampakkan pemberian itu, Dari yang cepat tunaikan perlu.”

2) Sesuatu yang dipersiapkan dengan lafaz yang terletak sesudahnya.
Contoh :
أنه كان يحرك الشمال باليمين .
Sesungguhnya ia menggerakkan baju lapang yang menyelubungi seluruh badan dengan tangan kanan.”

Contoh-contoh :

1. Sirajudin Al-Warraq berkata :
أصون أديم وجهي عن أناس #لقاء الموت عندهم الأديب
ورب الشعر عندهم بغيض #ولو وافى به لهم حبيب

Aku memelihara kulit mukaku dari banyak orang Bertemu mati menurut mereka adalah sesuatu yang beradab Pengarang menurut mereka adalah orang yang dibenci meski yang datang membawa kepada mereka itu adalah orang yang dicintai.

2. Nashiruddin Al-Hammami berkata :
أبيات شعرك كالقصور # ولا قصور ا يعوق
ومن العجائب لفظها # حر ومعناها رقيق
Bait-bait syi’irmu bagaikan istana, tiada kelalaian yang menghalanginya, di antara keajaiban-keajaiban, lafaznya bebas, maknanya terkekang.

3. Ibnu Nubatah berkata :
والنهر يشبه مبردا # فلأجل ذايجلو الصدى

Sungai itu menyerupai kikir dan oleh karenanya bertebaranlah ‘kotoran besi’.”



4. Ibnu al-Zhahir berkata :
شكرا لنسمة أرضكم # كم بلغت عني تحيه
لاغرو إن حفظت أحا # د يث الهوى فهي الذكية

“Terima kasih kepada angin bumimu yang sering menyampaikan penghormatan kepadaku. Maka tidak aneh bila ia mampu menjaga keinginan hawa nafsunya, sebab ia ‘cerdas’.”

C. Pengertian irshad

Irshad ialah menjadikan lafazh sebelum akhirnyabdengan lafazh  yang menunjukan akhirnya seperti firman ALLAH SWT :
 وما كا ن الله ليظلمهم و لكن كانوا انفسهم يظلمون

Artinya : Tidaklah Allah itu menzhalim terhadap mereka, akan tetapi mereka sendirilah yang zhalim dengan diri mereka.

Contoh lain :

الإرصاد، ويسمّى التسهيم أيضاً وهو: أن يذكر قبل تمام الكلام - شعراً كان أو نثرا ـ ما يدل عليه إذا عُرف الرويّ، كقوله تعالى: (وما كان الله ليظلمهم ولكن كانوا أنفسهم يظلمون   (ـ العنكبوت: 40.
Dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri..
أو يدل عليه بلا حاجة إلى معرفة الرويّ، نحو قوله تعالى: (ولكلّ أمّة أجل فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون (ـ الأعراف: 34.
 tiap-tiap umat mempunyai batas waktu[537]; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
*Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan.

BAB III
PENUTUP

1.    Kesimpulan

Tauriyah secara leksikal bermakna tersembunyi. Sedangkan pengertiannya dalam terminologi ilmu balâghah adalah suatu lapal yang mempunyai makna ganda, makna pertama dekat dan jela akan tetapi tidak dimaksud, sedangkan makna kedua jauh dan tersembunyi, akan tetapi makna itulah yang dimaksud.

Tauriyah mempunyai beberapa kategori, yaitu: mujarradah, murasysyahah, mubayyanah dan muhayyaah.



DAFTAR PUSTAKA

PDF Pengantar Badi’
Al-Akhdhary, Imam. (1993), Ilmu Balâghah. Bandung : Al-Ma’arif
Ali Al-Jarim & Usman Musthafa (1994). Al Balaghatul Wadhihah. Bandung : Sinar Baru Algensindo Muhsin Wahab A,H.K & Wahab Fuad T , Drs (1982), Pokok-pokok Ilmu Balâghah, Bandung : Angkasa Abdul Muthâllib, Muhammad, (1994) Al- Balâghah wa al-Uslûbiyyah, (Mesir: Al- Syirkah al-Mishriyyah al-Alamiyyah li al-Nasyr, Abu Ali,

Muhammad Barakat Hamdi, (1984) Dirâsât fî al-Balâghah, (Aman : Dar al-Fikr li al-Nasyr wa al-Tauzi’.

Al-Akhdhari, Abdurrahman, Syarh Jauhar al-Maknûn fî al-Ma’ânî wa al-Bayân wa al- Badî’ (tt) Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.

Al-Hasyimi, (1960) Jawâhir al-Balâghah fî al-Ma’ânî wa al-Bayân wa al-Badî’,
Indonesia : Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.

Hisyam, J.I. (tt) Mughnî al-Labîb. Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Husen, Abdul Qadir, (1984) Fann al-Balâghah, Beirut : ‘Alam al-Kutub. 
Download Makalah balaghah At-Tauriyah dan Al-Irshad dalam bentuk word lengkap dan tertata rapi

Makalah PRINSIP-PRINSIP DALAM PENILAIAN (Edukatif & Kebermaknaan)

MAKALAH

EVALUASI PENDIDIKAN

PRINSIP-PRINSIP DALAM PENILAIAN

(Edukatif & Kebermaknaan)

Dosen Pembimbing

M. Nursalim Azmi, M.Ag

Di susun Oleh :

KELOMPOK 3

1.      Ahlal Kamal

2.      Ahmad Jurni

3.      Ahmad Farid

4.      Erik Isbandi (M. Yusuf)

5.      Suriadi

6.      Syahbana

SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QURAN

(STIQ AMUNTAI) 2013-2014

KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah segala puji bagi Allah berkat rahmat taufiq serta hidayahnya lah makalah ini bisa kami selesaikan.

            Sholawat serta salam tak lupa pula kami panjatkan kehadibaan junjungan kita nabi besar Muhammad Saw.

            Makalah kami yang sederhana ini berjudul Prinsip-Prinsip Penilaian (Edukatif dan Kebermaknaan). Dalam penyusunan makalah ini kami para penyusun sempat kesulitan karna berbagai buku tentang Evaluasi telah kami kumpulkan namun di sana tidak kami temukan prinsip-prinsip penilaian (Edukatif dan Kebermaknaan). Sempat pula kami menuliskan judul di google dan hasilnya sama, tetap tidak kami temukan. Hanya sedikit yang kami temukan di google.

Tetapi sebagai Mahasiswa kami harus kritis memikirkan masalah ini, dan akhirnya ada titik terang yang kami temukan hingga makalah ini telah selesai kami buat. Namun kami menyadari tentunya ada banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari kawan-kawan sangat kami butuhkan.

Kelompok 3

Amuntai November 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................     i

KATA PENGANTAR........................................................................................   ii

DAFTAR ISI .....................................................................................................  iii

BAB I       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang ...........................................................................  1

B.     Rumusan Masalah ......................................................................  1

BAB II      PEMBAHASAN

1.      Prinsip Penilaian Edukatif & Kebermaknaan

A.    Pengertian Penilaian Edukatif dan Kebermaknaan  .............  2

B.     Manfaat Penilaian Edukatif dan Kebermaknaan .................  3

C.     Perbedaan Penilaian Edukatif dan Kebermaknaan ..............  5

D.    Perbandingan Antara Edukatif dan Kebermaknaan ............  7

BAB III    PENUTUP

                  Kesimpulan ......................................................................................  9

                  Saran ................................................................................................  9

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................  10



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Paradigma baru pendidikan Indonesia saat ini, menghendaki dilakukan adanya inovasi yang terintegrasi dan kesinambungan. Salah satu wujudnya adalah inovasi yang dilakukan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Untuk mengetahui bahwa materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru dapat dikatakan berhasil atau tidak yaitu dengan memberi evaluasi kepada siswa. Dengan evaluasi maka dapat diketahui sejauh mana siswa dapat menerima mata pelajaran yang telah disampaikan oleh guru. Di antara Evaluais (penilaian) ada yang namanya Edukatif dan Kebermaknaan. Dan kali ini kami akan membahas tentang prinsip-prinsip penilaian edukatif dan kebermaknaan.

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas bisa kami rumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

1.      Apa itu Evaluasi Edukatif & Kebermaknaan?

2.      Apa manfaat Evaluasi Edukatif & Kebermaknaan?

3.      Apa perbedaan antara keduanya?

C.     Manfataan Penulisan

1.      Mengetahui pengertian Evaluasi Edukatif & Kebermaknaan.

2.      Memahami perbedaan antara keduanya.

3.      Mengetahui jenis dan cara penerapan kedua evaluasi di atas.

4.      Mampu menerapkan evaluasi tersebut ketika terjun menjadi guru nanti. insyaAllah

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Prinsip-prinsip penilaian (evaluasi) Edukatif & Kebermaknaan

A.    Pengertian Evaluasi (Penilaian) Edukatif dan Kebermaknaan.

Evaluasi edukatif adalah suatu tes hasil belajar dimana evaluasi tersebut mempunyai suatu tujuan untuk dapat mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik itu telah terbentuk (sudah sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti suatu proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, kemudian perlu diketahui juga bahwa istilah edukatif itu juga sering disebut dengan formatif dan dari kata form dapat diatikan sebagai “bentuk.”

Dengan demikian maka evaluasi edukatif merupakan suatu jenis evaluasi yang disajikan di tengah program pengajaran yang mempunyai fungsi untuk memantau (memonitor), dimana untuk dapat mengetahui kemampuan belajar siswa dalam kesehariannya pada proses kegiatan belajar mengajar demi memberikan suatu umpan balik, baik kepada siswa maupun seorang guru.

Bisaanya di sekolah-sekolah, tes penilaian edukatif itu pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan pelajaran yang akan diajarkan oleh seorang guru, setelah guru mengadakan atau melaksanakan suatu tes edukatif, maka alangkah baiknya ditindaklanjuti lagi jika ada bagian-bagian yang memang belum dikuasai, maka sebelum dilanjutkan ke pokok bahasan baru terlebih dahulu diulangi atau dijelaskan kembali bagian-bagian mana yang sekiranya belum dikuasai atau dipahami oleh peserta didik. Dengan demikian tujuan dari evaluasi edukatif adalah untuk memperbaiki tingkat penguasaan materi dari peserta didik dan sekaligus memotivasi peserta didik serta untuk memperbaiki suatu proses pembelajaran.

Penilaian edukatif juga bisa diartikan sebagai penilaian yang dilaksanakan akhir program belajar mengajar (ketika proses pembelajaran belum sampai pada titik akhir) semua dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri.

Sedangkan yang dimaksud dengan penilaian Kebermaknaan adalah suatu penilaian yang pelaksanaannya itu dilakukan pada akhir tahun atau akhir program, dan sering disebut juga dengan penilaian sumatif atau lebih sederhananya yaitu penilaian yang dilakukan pada akhir semester dari akhir tahun. Jadi, tujuannya adalah untuk melihat hasil yang dicapai oleh para siswa, yaitu seberapa jauhkah tujuan-tujuan kurikuler yang berhasil dikuasai oleh para peserta didik, dan penilaian inipun dititik beratkan pada penilaian yang berorientasi kepada produk, bukan kepada sebuah proses. Maksudnya adalah penilaian lebih mengarah kepada hasil pencapaian akhir pembelajaran tersebut.

Dan bagaimanapun , hasil yang diperoleh dari penilaian Kebermaknaan akan menjadi keputusan akhir mengingat tidak adanya kesepakatan bagi guru untuk memperbaiki kekurangan para siswa pada semester tersebut. Perubahan baru bisa dilakukan pada tahun berikutnya atau sekedar bahan untuk penyempurnaan semester berikutnya.

2.      Manfaat Penilaian (evaluasi) Edukatif dan Kebermakaaan.

Berbicara mengenai manfaat, maka evaluasi edukatif dan evaluasi kebermaknaan mempunyai banyak manfaat, baik bagi siswa, guru maupuun program itu sendiri. Manfaat tersebut antara lain, yaitu yang dikutip dari buku dasar-dasar evaluasi pendidikan :

ü  Manfaat Penilaian Edukatif

a.       Manfaat  Bagi Siswa

- Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah mengevaluasi bahan program secara menyeluruh.

- Merupakan penguatan bagi siswa atau suatu motivasi dari dalam. Karena dengan mengetahui bahwa yang dikerjakan sudah menghasilkan skor yang tinggi sesuai dengan yang diharapkan maka siswa merasa mendapat “ anggukan kapala ”dari guru, dan ini merupakan suatu kebanggaan bahwa apa yang sudah ia miliki merupakan pengetahuan yang sudah benar. Dengan demikian maka pengatahuan itu akan bertambah membekas diingatan, sehingga ia termotivasi untuk lebih bersemangat lagi mencapai prestasi yang lebih dahsyat. Di samping itu tanda keberhasilan suatu pelajaran akan memperbesar minat siswa untuk belajar lebih giat, agar dapat mempertahankan nilai yang sudah baik itu atau memperoleh yang lebih baik lagi. Selain itu bagi siswa yang mendapatkan nilai rendah akan termotivasi untuk mengikut temannya yang mendapat nilai tinggi.

- Usaha perabaikan, dengan soal-soal yang diberikan guru. Siswa mengatui kelemahan-kelemahannya. Bahkan dengan teliti siswa mengetahui bab atau bagaimana dari bahan yang mana yang belum dikuasainya.

- ketika dilakukan proses penilaian edukatif, siswa dengan jelas dapat mengetahui bagaimana dan bahan pelajaran mana yang masih dirasakan sulit.

b.      Manfaat Bagi Guru

Dengan telah mengatahui hasil penilaian edukatif yang jalankan, maka guru :

- Mengetahui sampai sejauh mana bahan-bahan yang diajarkan sudah dapat diterima oleh siswa. Hal ini akan menentukan pola, apakah guru itu harus mengganti cara menerangkan (strategi mengajar) atau tetap dapat menggunakan cara (strategi) yang lama atau metode lama perlu dimodifikasi menjadi lebih baik lagi.

- Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum dipahami siswa. Apabila bagian yang belum dikuasai kebetulan merupakan bahan prasyarat bagian pelajaran yang lain, maka bagian ini harus diterangkan lagi, dan barangkali memrlukan cara atau media lain untuk memperjelas. Apabila bahan ini tidak diulangi, maka akan menganggu kelancaran pemberian bahan pelajaran selanjutnya, dan  siswa akan semakin tidak dapat menguasainya.

- Dapat meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang akan diberikan.

c.       Manfaat Bagi Program Pembelajaran.

Setelah diadakan tes maka diperoleh hasil, dari hasil tersebut dapat diketahui :

- Apakah program yang diberikan merupakan program yang tepat dalam arti sesuai dengan kecakapan anak.

- Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan prasyarat yang belum diperhitungkan.

- Apakah diperlukan alat, sarana dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang akan dicapai.

- Apakah metode, pendekatan dan alat evaluasi yang digunakan sudah tepat.

ü  Manfaat Penilaian Kebermaknaan :

Ada beberapa manfaat, dan 3 diantaranya yang terpenting adalah :

1.  Untuk nenentukan nilai.

2. Untuk menentukan seorang anak dapat atau tidaknya mengikuti kelompok dalam menerima program berikutnya. Dalam kepentingan seperti ini maka tes Kebermaknaan  berfungsi sebagai tes prediksi.

3. Untuk mengisi catatan kemajuan belajar siswa yang akan berguna bagi orang tua siswa, pihak bimbingan dan penyuluhan di sekolah serta pihak-pihak lain apabila siswa tersebut akan pindah ke sekolah lain, akan melanjutkan belajar atau akan memasuki lapangan kerja.

3.      Perbedaan Penilaian Evaluasi Edukatif dan Kebermaknaan.

Mengingat masih banyaknya salah pengertian di antara guru-guru tentang pengaertian edukatif dan kebermaknaan maka perlu kiranya dijelaskan kembali pengertian penilaian edukatif dan kebermaknaan serta perbedaan antara kedua jenis penilaian tersebut.

      Penilaian Edukatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari atau memperoleh sebuah umpan balik (feed back), yang kemudian selanjutnya dari hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki suatu proses belajar mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. Jadi, sebenarnya pada panilaian edukatif itu tidak hanya dilakukan pada tiapa akhir pelajaran akan tetapi bisa juga ketika proses pelajaran  sedang berlangsung.

Misalnya, ketika guru sedang mengajar, guru tersebut mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mengecek atau mendapatkan informasi apakah siswa telah memahami apa yang baru diterangkan guru. Jika ternyata masih banyak siswa yang belum mengerti, maka tindakan guru selanjutnya ialah menambah atau memperbaiki cara mengajarnya sehingga benaar-benar dapat diserap oleh siswa.

Dari contoh tersebut, jelas bahwa penilaian edukatif tidak hanya berbentuk tes tertulis dan hanya pada akhir pelajaran, tetapi dapat pula berbentuk pertanyaan-pertanyaan lisan atau tugas-tugas yang diberikan selama pelajaran berlangsung ataupun sesudah pelajaran selesai.

Penilaian Kebermaknaan adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. Adapun fungsi dan tujuannya ialah untuk menentukan apakah dengan nilai yang diperolehnya itu siswa dapat dinyatakan lulus. Pengertian lulus dan tidak lulus disini dapat berarti : dapat tidaknya siswa melanjutkan ke modul berikutnya, dan dapat tidaknya seorang siswa mengikuti pelajaran pada semester berikutnya, dan dapat tidaknya seorang siswa dinaikan ke kelas yang lebih tinggi.

Dari apa yang telah dikemukakan, jelas kiranya bahwa penilaian kebermaknaan tidak hanya merupakan penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir semester, tetapi juga dilaksanakan misalnya pada setiap modul, setiap akhir tahun ajaran ataupun evaluasi belajar tahap akhir hingga pengisian raport.

Dari uaraian diatas dapat disimpulkan perbedaan antara penilaian edukatif dan kebermaknaan  bukan terletak pada kapan atau waktu tes itu dilaksanakan, tetapi terutama pada fungsi dan tujuan tes atau penilaian itu dilaksanakan. Jika penilaian atau tes itu berfungsi dan bertujuan untuk memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar, maka penilaian itu disebut penilaian edukatif.

Tetapi jika penilaian itu berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai dimana prestasi atau penguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukan dengan penentuan lulus tidaknya seorang siswa, maka penilaian itu disebut penilaian  kebermaknaan, sebagaimana telah kita ketahui hasil akhir akan menimbulkan makna tersendiri bagi pemiliknya.

4.      Perbandingan Antara Edukatif dan Kebermaknaan

Untuk memperoleh gambaran mengenai tes yang dilakukan pada penilaian edukatif dan kebermaknaan secara lebih mendalam, maka berikut ini akan disajikan perbandingan antara keduanya. Agar dapat diketahui tiap-tiap persamaan dan perbedaannya. Dalam membandingkan, akan ditinjau dari 4 aspek, yaitu fungsi, waktu, titik berat, atau tekanannya, alat evaluasi, cara memilih tujuan yang dievaluasi, tingkat kesulitan soal-soal tes, cara menyekor.

a. Ditinjau dari Fungsinya

- Tes Edukatif digunakan sebagai umpan balik bagi siswa, guru maupun program-program untuk menilai pelaksanaan satu unit program.

-Tes Kebermaknaan digunakan untuk memberikan tanda kepada siswa bahwa telah mengikuti suatu program, serta menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan kawannya dalam kelompok.

b. Ditinjau dari Waktu

-       Tes Edukatif dilakukan selama pelajaran berlangsung untuk mengetahui kekurangan agar pelajaran dapat berlangsung sebaik-baiknya dan tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik.

-       Tes Kebermaknaan dilakukan pada akhir semester akhir tahun atau akhir pendidikan.

c. Ditinjau dari Titik Berat Penilaian

-       Tes Edukatif menekankan pada tingkah laku kognitif.

-       Tes Kebermaknaan sama-sama menekankan pada tingkah laku kognitif, tetapi ada kalanya pada tingkat psikomotor dan juga kadang-kadang pada afektif akan tetapi walaupun menekankan pada tingkah laku kognitif, yang diukur adalah tingkatan yang lebih tinggi.

d. Ditinjau dari Segi Alat Evaluasi

-       Tes Edukatif merupakan tes prestasi belajar yang tersusun secara baik.

-       Tes Kebermaknaan merupakan tes ujian akhir.

e. Ditinjau dari Cara Memilih Tujuan yang Dievaluasi

-       Tes Edukatif mengukur semua tujuan instruksional khusus.

-       Tes Kebermaknaan mengukur tujuan instruksional umum.

f. Ditinjau dari Tingkat Kesulitan Tes

-       Tes Edukatif belum dapat ditentukan.

-       Tes Kebermaknaan rata-rata mempunyai tingkat kesulitan antara 0,35 – 0,70, Soal yang sangat mudah dan soal yang sangat sukar.

Ditinjau dari Skoring

-      Tes Edukatif, menggunakan standar mutlak.

-      Tes Kebermaknaan, kebanyakan menggunakan standar relatif tetapi dapat pula dipakai standar mutlak.

BAB III

PENUTUP

1.      Kesimpulan

Dengan adanya penilaian edukatif, maka seorang guru dapat mengetahui keberhasilan dirinya dalam mengajar dan apabila para siswanya banyak yang belum menguasai materi ataupun belum paham dengan bahan pelajaran itu maka seorang guru dapat memperbaiki cara mengajarnya. Kemudian Penilaian Edukatif juga membawa pengaruh yang sangat besar untuk Penilaian Kebermaknaan karena apabila tes Edukatif itu sudah tercapai dengan baik maka hasilnyapun akan berimbas pada Penilaian Kebermaknaan.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penilaian Edukatif, dan penilaian Kebermaknaan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pencapaian tujuan pendidikan yang ada di sekolah-sekolah. Penilaian Edukatif berfungsi dan bertujuan untuk memperoleh umpan balik dan selanjutnya digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Sedangkan penilaian Kebermaknaan berfungsi dan bertujuan untuk mendapatkan informasi sampai dimana prestasi atau penguasaan dan pencapaian belajar siswa yang selanjutnya diperuntukkan bagi penentuan lulus tidaknya seorang siswa tersebut.

                                         

2.      Saran

Ketika kita menjadi seorang pendidik, agar hasil pengajaran yang telah kita jalankan berjalan dengan baik dan lancar serta mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang dhiharapkan maka diperlukan Penilaian (evaluasi).

   Setelah kita bahas panjang lebar tentang Penilaian Edukatif dan Kebermaknaan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah penerapan tes, seorang guru harus kreatif dalam membuat soal-soal / pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan menjadi alat ukur dalam penilaian keberhasilan pembelajaran yang ia terapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Drs. 1997. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Jakarta : Bumi Aksara. Cet. 3.

Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar Dan Umpan Balik. Jakarta : PT. Grasindo.

Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Rosdakarya.

Dr. Faridah Yusuf Tayibnapis, M.Pd 2008. Evaluasi Program dan Instroment Evaluasi Untuk Program Pendidikan dan Penelitian. Jakarta:  Rineka Cipta


Mungkin  Makalah di atas tidak tersusun rapi
silahkan download file word nya di bawah ini
 
Download File nya

Jika tidak mengerti cara download di 4shared silahkan di googling dulu "cara mendowload di 4shared"
Mau Hp Cina Murah? Klik Disini
 

Total Tayangan Halaman

Text

Saya ucapkan terimakasih yg sebesar-besarnya kepada seseorang yg (tidak bisa saya sebutkan namanya) telah membantu saya dLm kelangsungan bLog saya ini , sehingga saya bisa posting dgn mudah alhamduLiLLah smoga allah membrikan blsan yg berlipat ganda dan smoga dia di sehatkan badan serta di tambah rejkinya amiiiiiN++ya rabbal alamiin